hmmm..

hmmm..

Minggu, 11 September 2011

Seminar Coass Pedo

PERAWATAN ENDODONTI GIGI SULUNG MENGGUNAKAN KOMBINASI OBAT ANTIBAKTERI

Rio Simanjuntak, SKG., Basaria Manurung, SKG., Dewi Caronita Gurusinga, SKG., Nancy Hutabarat, SKG.
(Co-Assistent Pedodonti Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara Medan)
drg. Taqwa Dalimunthe, Sp.KGA 
(Dosen Departemen Pedodonti FKG USU)

Tujuan
          Evaluasi hasil klinis terapi LSTR (Lesion Sterilization and Tissue Repair) perawatan endodontik pada gigi sulung.

Metodologi
          Campuran metronidazole, ciprofloxacin, minocycline (3Mix) dan salep MP (Macrogol - Propylene glycol) pada 56 orang pasien (usia 4-18 tahun).
 
Pendahuluan
          Gigi dengan infeksi saluran akar, terutama jika telah mencapai jaringan periradikular adalah merupakan masalah yang umum terjadi pada gigi sulung dan sering mengakibatkan premature loss.
          Metronidazole diindikasikan untuk infeksi bakteri aerob dan anaerob. Berikut nama patennya : ®flagyl, elyzol, fladex, fortagil, mebazid, metrofusin, metrol,  metrozine, nidazole, pravlon, ragyl forte, trogyl, tismazol. Ciprofloxacin diindikasikan untuk infeksi pseudomonas Aeruginosa. Contohnya adalah ®ciproxin. Sedangkan minocycline diindikasikan untuk infeksi stafilokokus Aureus & streptokokus. Contohnya ®minocin.
          Gigi sulung perlu dipertahankan dalam lengkung dengan cara direstorasi untuk mempertahankan fungsi dan agar bebas penyakit (Camp 1994). Gigi sulung yang dirawat dan direstorasi disebut sebagai space maintainer yang mana gigi tersebut adalah lebih baik daripada pesawat (Belanger 1988).
          Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi secara klinis LSTR pada perawatan endodontik gigi sulung yang terinfeksi termasuk gigi dengan resorpsi akar fisiologis.

Metode dan Bahan
          Sampel sebanyak 87 gigi sulung yang terinfeksi pada 56 pasien berusia 4-18 tahun. Pasien tersebut pernah menerima perawatan gigi antara tahun 1989 dan 1997 di Klinik Gigi Takushige (Sendai, Jepang). Pasien diberitahu maksud dan tujuan klinisnya, juga keuntungan dan kerugian perawatan. Pasien melakukan persetujuan tertulis dan kemudian dirawat oleh satu dari empat orang dokter gigi.

Tabel 1.
Usia pasien yang dirawat

Tabel 2.
Jumlah dan posisi gigi yang dirawat dengan perawatan endodonti LSTR 3Mix

Tabel 3.
Kasus dengan resorpsi akar fisiologis dan hasil klinis setelah perawatan  endodonti LSTR 3Mix
  Dari data tersebut terdapat sebanyak 87 kasus, 81 kasus memperlihatkan derajat resorpsi akar fisiologi.

 Tabel 4.
Kasus dengan pembengkakan gingiva/fistula dan hasil klinis setelah perawatan endodonti LSTR 3Mix
 
Dari tabel tersebut diketahui derajat yang berbeda dari pembengkakan gingiva diamati pada 52 kasus dan fistula pada 22 kasus

Tabel 5.
Kasus dengan nyeri klinis & hasil klinis setelah perawatan endodonti LSTR 3Mix

Tabel 6.
Kasus dengan resorpsi tulang & hasil klinis setelah perawatan endodonti LSTR 3Mix

Persiapan Klinis
  1. Pembuangan lapisan tablet dan kapsul 
  2. Setiap obat dihancurkan dengan mortar porcelain dan penumbuknya 
  3. Disimpan pada tempat penyimpanan porcelain dengan rapat untuk mencegah pemaparan sinar dan kelembaban 
  4. Obat disimpan di lemari es dengan temperatur sekitar 160C
  5. Setelah dikeluarkan dari lemari es, tempat penyimpanan tersebut tidak boleh langsung dibuka sebelum mencapai suhu kamar 
  6. Bubuk obat antibakterial dicampur dengan perbandingan 1:3:3 (metronidazole: ciprofloxacin: minocycline) atau disebut 3Mix.
                    3Mix dipersiapkan dengan cara : 
    1. 3Mix + Macrogol (M) & Propylene glycol (P) disebut 3Mix-MP 
    2. 3Mix + sealer saluran akar disebut 3Mix-sealer
Prosedur klinis LSTR pada perawatan endodonti gigi sulung dengan 3Mix-MP atau 3Mix-sealer
  • Pencatatan gejala klinis akut dan kronik
  • Pembuatan radiografi sebelum perawatan
  • Pembukaan akses, pembuangan pulpa nekrotik dan restorasi sebelumnya jika ada dengan bur
  • Orifisi saluran akar dibesarkan untuk membuat suatu kavitas medikasi 
  • Kavitas medikasi setengahnya diisi dengan 3Mix-MP atau 3Mix-sealer
  • Kavitas ditutup dengan glass ionomer cement dan selanjutnya diperkuat dengan direct bonded resin inlay
            Skema aplikasi LSTR 3Mix-MP NIET pada gigi sulung yang infeksi. (a) Gigi sulung denganresorpsi akar fisiologis. (1) Inlay resin dibuat dengan metode direk dan diperkuat oleh semen resin. (2) Pengisian dengan GIC flow. (3) 3Mix-MP dalam kavitas medikasi yang dipersiapkan. (b) Gigi tetap pengganti
  
       Evaluasi klinis perawatan endodonti dengan LSTR
                 Setelah perawatan, dilakukan pemeriksaan klinis. Dalam sebulan (terutama dalam 10 hari), dilakukan evaluasi klinis pertama sebagai evaluasi jangka pendek. Evaluasi jangka panjang dilengkapi saat pasien mengunjungi klinik dokter gigi untuk perawatan lain atau pada waktu dipanggil kembali. Perawatan berhasil bila gigi dapat berfungsi, tidak ada rasa sakit atau infeksi. Jika perawatan berhasil à akan diikuti  penggantian gigi tetap secara normal. 
Hasil 
Pemeriksaan klinis pada 83 kasus dari 87 kasus setelah aplikasi tunggal obat 3Mix menunjukkan hasil yang baik.Pembengkakan gingiva & fistula menghilang dalam beberapa hari setelah penggunaan obat tersebut.
Rasa sakit hilang dan semua gigi berfungsi normal setelah perawatan.
Sebagai catatan, 70 dari 87 kasus (80%) telah selesai dan berhasil dalam sekali kunjungan 
Diskusi
Hasil penelitian ini adalah bahwa gigi sulung dengan lesi periradikular, termasuk tahap resorpsi akar fisiologis dapat dilakukan perawatan lebih singkat dengan terapi endodonti LSTR
3Mix pada perawatan gigi sulung disertai lesi periradikular memberikan hasil klinis yang sangat baik walaupun hanya sekali kunjungan
Hasil klinis sukses dari LSTR-NIET pada perawatan gigi sulung yang infeksi dapat dianggap berasal dari khasiat bakterisidal obat (3Mix)
Proses pencampuran obat terjadi dengan cepat dan efisien dengan adanya propylene glycol
yang mana penetrasinya ke dalam lesi gigi sulung membunuh semua bakteri dalam waktu singkat
Infeksi saluran akar gigi sulung dihindarkan dari tindakan pencabutan sehingga menjadi space maintainer alami.
Resorpsi akar fisiologis merupakan kontraindikasi. 
Kasus klinis penggunaan LSTR 3Mix-MP NIET
(a.b) Sebelum perawatan. Terdapat pembengkakan gingiva dan adanya fistel
(a) Radiografi.
(b) Gigi M1 sulung kiri mandibula dalam tahap resorpsi akar fisiologis. 
(c) Kavitas medikasi dipersiapkan pada orifisi saluran akar. 
(d) Satu minggu setelah perawatan. Pembengkakan gingiva & fistel hilang. 
(d.f) Setelah 351 hari, gigi sulung secara normal akan digantikan oleh gigi permanen.
 
(a.b) Sebelum perawatan. Abses gingiva
(a) Radiografi.
(b) Gigi M2 sulung kiri mandibula sedang dalam tahap resorpsi akar fisiologis,
     membutuhkan perawatan endodontik.
(c) Abses gingiva telah hilang setelah 1 hari perawatan.
(d) Setelah 225 hari, gigi permanen pengganti dalam proses erupsi normal.
   
Kesimpulan 

      Terapi LSTR menggunakan 3Mix-MP adalah pencampuran metronidazole, ciprofloxacin dan minocycline (3Mix) serta macrogol & propypilene glycol (MP) à memberikan hasil yang sangat baik dalam perawatan saluran akar gigi sulung yang infeksi disertai lesi periradikular & beberapa dengan resorpsi akar fisiologis.

Sabtu, 10 September 2011

Kota Tarutung

my ACTIVITY (the story with some pictures)

wellcome the city ....TARUTUNG....



Everyday,
Monday till Saturday at Hutabaginda PHC
(jalan Dr. T.B. Simatupang No. 380)


at Poli Gigi 


UKGS Goes To School
 

the Charity with
Saurma AmKeb (bidan puskesmas),
Tiodina (bidan kelurahan Hutatoruan IX),
Hilde AmKeb (bidan desa PTT)



Private Praktek at Jalan Sisingamangaraja No. 234 Tarutung (Depan RSUD)
Edit : Senin - Jumat Jam 16.30 - 20.00 Wib




the room.. (minimalis, tapi dijamin comfortable alias nyaman)



Save Your Children's Teeth,
Save The Childrens..



Visi :

Dengan menggunakan sarana teknologi informasi yang semakin maju, kami berusaha ikut berpartisipasi dalam pelayanan kesehatan gigi, pengembangan ilmu pengetahuan kepada masyarakat secara profesional

Misi :

Menjalankan praktek dokter gigi

Memberikan informasi tentang kesehatan gigi  kepada masyarakat

Memberikan pelayanan profesional berupa  perawatan dan pengobatan gigi mulut

Menerima konsultasi dan rujukan dari teman sejawat dokter

Behel Untuk Remaja

Braces For Teenagers : Merapikan Gigi
  • Teenage years (10-18) are often the ideal time for orthodontic treatment. Jaw bone at this age is relatively soft and the teeth can be moved easily by braces and hence treatment time is shorter. 
  • Common orthodontic problems among teenagers are crowding, gaps between teeth, protruding upper teeth, extra or missing teeth and some jaw growth problems
 



Selasa, 06 September 2011

Aku Sedang Malas



Aku Sedang Malas..
Bingung ya kalo ada orang berpikiran aq itu dibayar stp x mengikuti baksos.. ntah dari mana asumsi seperti itu muncul ke permukaan agenda permohonan izin.. tp mmg setelah dianalisis kenyataannya kebanyakan org berpikiran sama. I think i dont have a friends with the same opinion here.. hoalah.. tp gak bs jg sih disalahkan, bs aja stp ada baksos mreka pake sistem payment.. yah yg mnrtku itu namanya gak baksos.. itu sih kegiatan mencari duit berkedok baksos.. kasihan jg kurasa.. tp mau gmn lg, sbg dokter fungsional ya saya terima jg lah alasan tdk memberi ijin krn pasien di poli mau dikemanain.. ok ok jawaban yg ini baru tepat saya rasa.. yg gak enaknya judge di jawaban pertama “dibayar brp..” ough.. aq bagaikan diterpa angin bahorok, melayang ku melayang.. ya akhirnya aq ikuti alasannya dan aq pun cari solusi lain utk ikut the MT tsb.. semua ada jalan, aq yakin itu.. semangat semangat.. semangkaaaaaaaa.. hehe..

Lah judulnya aq sdg malas tp yg dibahas nyambung gak sih?? Hehe..
Tp mmg ini membuatku malas.. ya mmg uda resiko sih, siapa suru jd pns pemda. Mesti diterima dan mesti hormat sm sesama pns.. haha.. halah.. bbrp tmn jg diajak pada gak ada yg mau.. hmm.. sulit mmg ya kalo gak dibayar.. ya wajar sih.. haha.. tp kalo sesekali kan gak apa2 nya.. hohoho.. asik ketawa aja aq di tulisan ini.. pantesan aja kebanyakan masyarakat blg kalo menjumpai dokter itu sgt mahal.. kalo yg ini aq setuju, namanya jg kita sekolah lama n uang ortu uda pada ludes.. hehe.. tp kan perlu jg membayar sedikit pd masyarakat tak sanggup.. nah apalagi ini ada moment nya ada yg mengajak bergabung kan lbh asik gak perlu susah2 lg kalo mau berbagi, gak sendirian lg mengerjakannya.. kalo sendiri kan byk aja halangan n tantangan.. ini aja mau ikut gabung 2 hari aja uda ada kesulitan.. haha.. wadow yg itu jgn dibahas lg lah ya dianggap kelar aja.. ambil resiko alpa.. haha.. yg pntg uda ijin.. tul?? (uda stres jg nih aq, ntah siapa yg ngejawab ini question tag.. hehe)

Ya sudahlah, spt katanya kang bondan prakosa. Spt jg katanya pak rian d masiv, syukuri apa yg ada hidup adalah anugerah tetap jalani hidup ini melakukan yg terbaik.. yg terbaik mnrt God Sang Penciptaku..
So jangan malas lg.. hayo kerja kerja kerja.. ini pasien dimana semua ya? Kog blm ada yg nongol k perpolian ini?? Ngerti kale ya kalo aq sdg malas.. ato kalo aq sdg menulis di blog ini.. haha.. spirit dah.. cu next blogger..

Minggu, 04 September 2011

Granuloma Dental

 

Mari memasuki mode harfiah, kata dental berarti segala sesuatu yang berhubungan dengan gigi, kata granul/ granula berasal dari jaringan granulasi dan imbuhan oma identik dengan pembengkakan, jadi secara harafiah sederhana dental granuloma adalah pembentukan jaringan granulasi secara berlebihan sebagai respon rangsangan infeksi gigi (untuk Anda yang tidak setuju dengan definisi ini, memang dipersilahkan untuk membaca diktat Anda kembali dan menggunakannya sebagai pegangan hidup praktek Anda, hehe.. karena definisi di sini digunakan untuk mempermudah proses pembelajaran saya saja..).

Dari 4 kondisi kelainan periapikal yang dapat terjadi sebagai manifestasi infeksi pulpoperiapikal (sekedar mengingat kembali ada 4 kondisi yang mungkin terjadi ketika infeksi mencapai jaringan periapikal, bisa jadi dental granuloma, abses periapikal, kista atau osteomielitis), dental granuloma adalah kondisi yang paling ringan dan paling sedikit menimbulkan gejala yang mengganggu bahkan mungkin pasien sendiri tidak sadar bahwa ia memiliki dental granuloma.

Saluran pulpa yang sempit menyebabkan drainase yang tidak sempurna pada pulpa yang terinfeksi, namun dapat menjadi tempat berkumpulnya bakteri dan menyebar kearah jaringan periapikal secara progresif . Ketika infeksi mencapai akar gigi, jalur patofisiologi proses infeksi ini dipengaruhi oleh jumlah dan virulensi bakteri, ketahanan host dan anatomi jaringan yang terlibat. Pada kondisi host yang cukup baik dan kebetulan memang virulensi bakteri yang menginfeksi rendah, seringkali menciptakan kondisi yang disebut dental granuloma ini.

Bagaimana prosesnya?

Seperti yang kita ketahui, proses keradangan akan selalu menjadi pasukan garda depan dalam mengeliminasi “sesuatu” yang dianggap akan membahayakan sel, jaringan atau lebih luasnya lagi; tubuh. “Sesuatu” ini sering kita sebut sebagai jejas. Proses keradangan dibagi menjadi 2 kondisi; akut dan kronis. Ada juga beberapa diktat yang menyebutkan 3 kondisi; akut, sub-akut dan kronis. Dalam kondisi dental granuloma ini, proses keradangan yang terjadi adalah keradangan kronis.

Keradangan kronis bisa terjadi pada kondisi infeksi dengan virulensi bakteri ataupun jumlah bakteri yang rendah, serta kemampuan tubuh / host dalam mengatasi infeksi tersebut dalam kondisi yang baik. Yang terjadi pada bakteri bervirulensi rendah ini ketika memasuki regio periapikal adalah terhentinya aktivitas bakteri secara terputus-putus (nyambung gak nyambung gak), akibat respon keradangan kronis yang mekanismenya berupa aktivasi sel-sel radang kronis untuk mengeliminasi bakteri, disertai pembentukan pembuluh darah baru, dan pembentukan jaringan granulasi di regio yang terlibat.

Dental granuloma (bagi yang belum pernah melakukan / pernah melihat ekstraksi gigi dengan dental granuloma di apeks giginya, tuh gambar di atas.. hehe) berbentuk kurang lebih seperti bakso kasar/buah anggur, bergranul-granul, kadangkala terlihat agak putih, atau bisa jadi berlumuran darah berwarna merah gelap.
Proses terbentuknya dental granuloma; sederhananya, mari membayangkan sebuah apeks gigi, dan dari foramen apikalnya keluarlah seekor bakteri (seekor.. padahal untuk mampu merusak jaringan, dibutuhkan banyak bakteri, sederhananya, inilah salah satu kondisi yang menurunkan virulensi bakteri, yaitu kalah jumlah), sejak awal kedatangannya, bakteri ini sudah dihadang oleh sel radang kronis, lalu dieliminasilah dia.. lalu berikutnya terbentuklah pembuluh darah baru di daerah yang sempat didatangi bakteri tadi (hal ini lumrah adanya, karena setiap bakteri memiliki enzim yang memang tetap saja mampu merusak jaringan) dengan tujuan agar transpor nutrisi dan oksigen dapat berlangsung kembali dengan baik, sehingga proses repair jaringan dapat terjadi. Untuk melindungi pembuluh darah baru tadi, yang notabene rapuh karena memang masih muda, maka dibentuklah jaringan granulasi yang tersusun atas jaringan ikat, agar mampu melindungi pembuluh darah baru tadi dalam melakukan perannya sebagai media perantara perbaikan jaringan. Seharusnya, proses infeksi berhenti sampai disini, namun virulensi yang rendah bukan berarti jumlah (kuantitas) bakteri yang sedikit saja, bisa jadi jumlah (kuantitas) bakteri yang cukup banyak, namun kemampuan (kualitas) mereka untuk merusak jaringan yang menurun.

Mari membayangkan kembali apeks gigi diatas, bedanya, kali ini sudah ada satu bundel jaringan granulasi yang terbentuk akibat adanya invasi bakteri tadi. Eh.. ternyata ada lagi bakteri yang keluar dari apeks gigi.. cukup banyak pula.. dan terulanglah fase keradangan kronis yang sama seperti yang dijelaskan diatas, sehingga terbentuklah jaringan-jaringan granulasi baru yang ber-bundel-bundel. Eh.. ada lagi bakteri yang turun dari apeks.. lalu segera proses keradangan kronis menghadang dan terulang kembali pembentukan jaringan granulasinya.. karena proses infeksi ini bersifat terputus-putus dan kualitasnya ringan, maka proses keradangan ini akan berjalan secara terus menerus pula, dan menghasilkan bentukan berupa semacam buah anggur di apikal gigi yang disebut dental granuloma.

Biasanya dental granuloma dapat berkembang karena adanya karies besar dan perforasi dalam jangka waktu yang lama, mungkin pernah sakit, namun hanya diberikan terapi anti nyeri, saat nyeri mereda, alih-alih pergi ke dokter gigi untuk merawat giginya, tapi dibiarkan saja karena merasa kondisi badannya saat itu memang sehat-sehat saja. Hal-hal semacam ini sebenarnya tidak saja memungkinkan terbentuknya dental granuloma, tapi bisa juga menjadi abses, kista, atau osteomyelitis, tergantung interaksi dari host, agent, dan environment-nya.

Bagaimana terapi dental granuloma? Biasanya dilakukan ekstraksi dengan maksud mengeliminasi penyebab utamanya yaitu karies besar yang mengandung banyak bakteri perusak, lalu dilanjutkan dengan melakukan kuretase di sekeliling soket terutama daerah apikal gigi. (Edit from Gilang Rasuna, SKG)

bila gigi Anda harus dicabut

 

Bila dokter memutuskan gigi anda harus dicabut, tips pertama percayalah bahwa keputusan itu untuk kebaikan Anda, jadi pasrahkan saja gigi Anda pada dokter. Yang perlu dipersiapkan sebelum eksekusi berlangsung adalah
  • Persiapan Mental : Relaks, jangan panik, jangan stres. Panik dan stres akan meningkatkan tekanan darah dan membuat perdarahan sulit berhenti. Bila resah katakan terus terang kepada dokternya, karena bila perlu akan diberi obat penenang. 
  • Persiapan Fisik : Minum obat yang diberikan sebelumnya sesuai petunjuk dokter, malam hari sebelum eksekusi jangan ke diskotik begadang, haha.... tidur cukup dan makan terlebih dahulu kira-kira 1-2 jam sebelum eksekusi dilaksanakan. Persiapan ini dimaksudkan untuk menjaga tekanan darah dan gula darah Anda dalam keadaaan normal. Bila tekanan darah tidak dalam batas normal maka pencabutan bisa ditangguhkan karena hal tersebut dapat menyebabkan perdarahan sesudah pencabutan. Demikian pula kadar gula yang rendah menyebabkan pasien menderita hipoglikemia, sedangkan kadar gula tinggi mempersulit penyembuhan luka pasca pencabutan selain itu juga infeksi sulit terkontrol.

Setelah gigi busuk Anda lenyap dengan tenang damai meninggalkan mulut indah Anda, yang perlu diingat adalah
  • Gigitlah tampon (gulungan kapas) dengan mengatupkan rahang selama 1 jam, gunanya untuk memberikan efek tekanan pada luka pasca pencabutan sehingga diharapkan terbentuk gumpalan darah (blood cloth)
  • 24 jam JANGAN setelah pencabutan. Jangan berkumur (minum saja seperti biasa), jangan terlalu sering meludah atau menghisap2 luka dan jangan memainkan luka dengan lidah, jangan merokok, jangan minum alkohol, jangan memakai sedotan. Tanya kenapa? Hal ini untuk mencegah terlepasnya blood cloth yang akan menyebabkan perdarahan. 
  • Selama 24 jam pertama jangan pergi ke disko, haha.. maksudnya adalah sebaiknya mengurangi aktivitas yang akan meningkatkan tekanan darah, mengurangi perdarahan dan membantu proses penyembuhan luka. 
  • Untuk mengurangi rasa sakit dan bengkak gunakan kompres dingin (dengan air dingin biasa, bukan dengan menggunakan es batu) di pipi sisi yang dicabut tempelkan 10 menit, istirahatkan 10 menit, tempel lagi 10 menit truss… sampai rasanya lebih enak. 
  • Banyak minum, makanan lunak, jangan makan pedas, boleh makan kembali seperti biasa setelah merasa lebih nyaman. 
  • Tetap menyikat gigi seperti biasa dan berkumur pelan (pelan2 ya, seperti membilas saja) dengan air garam untuk menghilangkan sisa makanan yang nyangkut di soket bekas pencabutan. 
  • Minum obat sesuai petunjuk dokter, ANTIBIOTIK harus dihabiskan. Awas melawan, rasain sendiri akibatnya..

Bila terjadi perdarahan dan repot mencari gumpalan kapas, bisa gunakan tea bag/ teh celup yang bersih, letakkan pada luka bekas pencabutan dan katupkan rahang sampai perdarahan berhenti. Teh mengandung tanin dan di literature dikatakan zat ini bisa menghambat perdarahan. Segera hubungi dokter Anda/ RS terdekat) (atau saya, xixixiiii..) bila perdarahan tidak berhenti, setelah tiga hari terjadi rasa sakit yang luar biasa, bau mulut, pembengkakan yang tidak berkurang.
Oleh Rio Sang Juara (facebook) pada 09 November 2010 jam 15:58 @ Poli Gigi Puskesmas Garoga