
Mari memasuki mode harfiah, kata dental berarti segala sesuatu yang berhubungan dengan gigi, kata granul/ granula berasal dari jaringan granulasi dan imbuhan oma identik dengan pembengkakan, jadi secara harafiah sederhana dental granuloma adalah pembentukan jaringan granulasi secara berlebihan sebagai respon rangsangan infeksi gigi (untuk Anda yang tidak setuju dengan definisi ini, memang dipersilahkan untuk membaca diktat Anda kembali dan menggunakannya sebagai pegangan hidup praktek Anda, hehe.. karena definisi di sini digunakan untuk mempermudah proses pembelajaran saya saja..).
Dari 4 kondisi kelainan periapikal yang dapat terjadi sebagai manifestasi infeksi pulpoperiapikal (sekedar mengingat kembali ada 4 kondisi yang mungkin terjadi ketika infeksi mencapai jaringan periapikal, bisa jadi dental granuloma, abses periapikal, kista atau osteomielitis), dental granuloma adalah kondisi yang paling ringan dan paling sedikit menimbulkan gejala yang mengganggu bahkan mungkin pasien sendiri tidak sadar bahwa ia memiliki dental granuloma.
Saluran pulpa yang sempit menyebabkan drainase yang tidak sempurna pada pulpa yang terinfeksi, namun dapat menjadi tempat berkumpulnya bakteri dan menyebar kearah jaringan periapikal secara progresif . Ketika infeksi mencapai akar gigi, jalur patofisiologi proses infeksi ini dipengaruhi oleh jumlah dan virulensi bakteri, ketahanan host dan anatomi jaringan yang terlibat. Pada kondisi host yang cukup baik dan kebetulan memang virulensi bakteri yang menginfeksi rendah, seringkali menciptakan kondisi yang disebut dental granuloma ini.
Bagaimana prosesnya?
Seperti yang kita ketahui, proses keradangan akan selalu menjadi pasukan garda depan dalam mengeliminasi “sesuatu” yang dianggap akan membahayakan sel, jaringan atau lebih luasnya lagi; tubuh. “Sesuatu” ini sering kita sebut sebagai jejas. Proses keradangan dibagi menjadi 2 kondisi; akut dan kronis. Ada juga beberapa diktat yang menyebutkan 3 kondisi; akut, sub-akut dan kronis. Dalam kondisi dental granuloma ini, proses keradangan yang terjadi adalah keradangan kronis.
Keradangan kronis bisa terjadi pada kondisi infeksi dengan virulensi bakteri ataupun jumlah bakteri yang rendah, serta kemampuan tubuh / host dalam mengatasi infeksi tersebut dalam kondisi yang baik. Yang terjadi pada bakteri bervirulensi rendah ini ketika memasuki regio periapikal adalah terhentinya aktivitas bakteri secara terputus-putus (nyambung gak nyambung gak), akibat respon keradangan kronis yang mekanismenya berupa aktivasi sel-sel radang kronis untuk mengeliminasi bakteri, disertai pembentukan pembuluh darah baru, dan pembentukan jaringan granulasi di regio yang terlibat.
Dental granuloma (bagi yang belum pernah melakukan / pernah melihat ekstraksi gigi dengan dental granuloma di apeks giginya, tuh gambar di atas.. hehe) berbentuk kurang lebih seperti bakso kasar/buah anggur, bergranul-granul, kadangkala terlihat agak putih, atau bisa jadi berlumuran darah berwarna merah gelap.
Proses terbentuknya dental granuloma; sederhananya, mari membayangkan sebuah apeks gigi, dan dari foramen apikalnya keluarlah seekor bakteri (seekor.. padahal untuk mampu merusak jaringan, dibutuhkan banyak bakteri, sederhananya, inilah salah satu kondisi yang menurunkan virulensi bakteri, yaitu kalah jumlah), sejak awal kedatangannya, bakteri ini sudah dihadang oleh sel radang kronis, lalu dieliminasilah dia.. lalu berikutnya terbentuklah pembuluh darah baru di daerah yang sempat didatangi bakteri tadi (hal ini lumrah adanya, karena setiap bakteri memiliki enzim yang memang tetap saja mampu merusak jaringan) dengan tujuan agar transpor nutrisi dan oksigen dapat berlangsung kembali dengan baik, sehingga proses repair jaringan dapat terjadi. Untuk melindungi pembuluh darah baru tadi, yang notabene rapuh karena memang masih muda, maka dibentuklah jaringan granulasi yang tersusun atas jaringan ikat, agar mampu melindungi pembuluh darah baru tadi dalam melakukan perannya sebagai media perantara perbaikan jaringan. Seharusnya, proses infeksi berhenti sampai disini, namun virulensi yang rendah bukan berarti jumlah (kuantitas) bakteri yang sedikit saja, bisa jadi jumlah (kuantitas) bakteri yang cukup banyak, namun kemampuan (kualitas) mereka untuk merusak jaringan yang menurun.
Mari membayangkan kembali apeks gigi diatas, bedanya, kali ini sudah ada satu bundel jaringan granulasi yang terbentuk akibat adanya invasi bakteri tadi. Eh.. ternyata ada lagi bakteri yang keluar dari apeks gigi.. cukup banyak pula.. dan terulanglah fase keradangan kronis yang sama seperti yang dijelaskan diatas, sehingga terbentuklah jaringan-jaringan granulasi baru yang ber-bundel-bundel. Eh.. ada lagi bakteri yang turun dari apeks.. lalu segera proses keradangan kronis menghadang dan terulang kembali pembentukan jaringan granulasinya.. karena proses infeksi ini bersifat terputus-putus dan kualitasnya ringan, maka proses keradangan ini akan berjalan secara terus menerus pula, dan menghasilkan bentukan berupa semacam buah anggur di apikal gigi yang disebut dental granuloma.
Biasanya dental granuloma dapat berkembang karena adanya karies besar dan perforasi dalam jangka waktu yang lama, mungkin pernah sakit, namun hanya diberikan terapi anti nyeri, saat nyeri mereda, alih-alih pergi ke dokter gigi untuk merawat giginya, tapi dibiarkan saja karena merasa kondisi badannya saat itu memang sehat-sehat saja. Hal-hal semacam ini sebenarnya tidak saja memungkinkan terbentuknya dental granuloma, tapi bisa juga menjadi abses, kista, atau osteomyelitis, tergantung interaksi dari host, agent, dan environment-nya.
Bagaimana terapi dental granuloma? Biasanya dilakukan ekstraksi dengan maksud mengeliminasi penyebab utamanya yaitu karies besar yang mengandung banyak bakteri perusak, lalu dilanjutkan dengan melakukan kuretase di sekeliling soket terutama daerah apikal gigi. (Edit from Gilang Rasuna, SKG)
Mantappp infonya...
BalasHapus